1

Dewi Lestari

Dewi Lestari, yang dikenal dengan nama pena Dee Lestari, lahir pada tanggal 20 Januari 1976 di Kota Bandung, Jawa Barat, dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan Siagian. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Tiga saudara perempuannya juga aktif di bidang seni. Kakak perempuannya, Key Mangunsong, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuan keduanya, Imelda Rosalin adalah seorang pianis dan penyanyi jazz. Adik perempuannya, Arina Ephipania, adalah seorang penyanyi dan merupakan vokalis band Mocca.

Dee bersekolah di SDN Banjarsari III Bandung, SMPN 2 Bandung, SMAN 2 Bandung, lulus tahun 1998 sebagai Sarjana Ilmu Politik dari FISIP Universitas Parahyangan Bandung jurusan Hubungan Internasional.

Pada tahun 2003, Dee menikah dengan penyanyi Marcell Siahaan dan dikaruniai seorang putra bernama Keenan Avalokita Kirana. Setelah lima tahun menikah, pasangan tersebut akhirnya berpisah. Setelah itu, Dee berkeluarga dengan Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan holistik. Mereka memiliki seorang putri bernama Atisha Prajna Tiara. Kini, Dee tinggal di kawasan Tangerang Selatan bersama Reza dan kedua anaknya, Keenan dan Atisha.

Sejak masih di bangku sekolah dasar, Dee aktif di kegiatan vokal grup, paduan suara, dan band sekolah. Dee Lestari tercatat pernah menjadi anggota grup vokal Highlight Voices dan paduan suara Glorify Lord Ensemble di bawah pimpinan Daud Saba. Di Bandung, Dee juga pernah dilatih oleh para pelatih vokal seperti Erry RAF, Yoseph, Deden AZ, dan Elfa Secioria.

Semasa sekolah, tim yang diikuti Dee kerap menjuarai berbagai perlombaan vokal group dan paduan suara. Tahun 1993 di SMAN 2 Bandung, Dee mempelopori pentas seni From 2 With Love yang menjadi cikal bakal tren “pensi” sekolah. From 2 With Love masih bertahan menjadi tradisi SMAN 2 Bandung hingga kini.

Selepas SMA tahun 1993, Dewi Lestari mengawali karier musiknya sebagai penyanyi latar Iwa K bersama Sita (yang kelak menjadi teman grupnya di Rida Sita Dewi). Selama dua tahun menjadi penyanyi latar, Dee pernah bekerja sama dengan banyak penyanyi dan grup papan atas Indonesia, antara lain Java Jive, Emerald, Padhyangan Project, Project Pop, Harvey Malaiholo, dan Chrisye.

Dua produser yang tergabung dalam Warna Musik, Adi Adrian dan Adjie Soetama, berniat membentuk trio vokal perempuan. Sita yang sudah menyanyi bersama Dee sejak bangku sekolah mengajaknya ikut serta. Sementara Rida direkomendasikan oleh penyanyi Andre Hehanussa. Di Bandung, mereka merekam demo lagu pertama mereka yang diciptakan oleh Andre Hehanussa dan Adjie Soetama berjudul Antara Kita. Album pertama Rida Sita Dewi (RSD), Antara Kita, dirilis pada tahun 1995, menyusul album kedua Bertiga (1997). Album ketiga yakni Satu (1999) dan album terakhir mereka The Best of RSD (2002) dirilis oleh Sony Music Indonesia.

Berbekal pelajaran piano klasik yang pernah dikecapnya waktu kecil selama dua tahun dan electone selama tiga tahun, Dee banyak menulis lagu dengan bantuan piano. Ia mulai menulis lagu sejak kelas 5 SD, tapi baru setelah bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD) Dee mulai dikenal sebagai penulis lagu profesional. Lagu pertamanya yang masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang Di Langit Kelam (1995) dan menjadi salah satu hits single Rida Sita Dewi. Lagu tersebut pernah dinyanyikan ulang oleh vokalis Chandra Satria.

Lagu hits Dee berikutnya adalah Firasat, yang dibawakan oleh Marcell di album pertamanya. Firasat dinyanyikan ulang oleh Raisa untuk OST film Rectoverso. Pada tahun 2006, Dee mengeluarkan album pertamanya yang berbahasa Inggris bertajuk Out of Shell dengan single Simply. Tahun 2008, sebagai bagian dari karya hibrida buku dan musiknya, Dee mengeluarkan album Rectoverso dengan single antara lain: Malaikat Juga Tahu, Peluk (duet bersama Aqi Alexa), dan Aku Ada (duet bersama Arina Mocca). Ketika Rectoverso difilmkan, Glenn Fredly menyanyikan ulang Malaikat Juga Tahu.

Dee kembali terlibat dalam dunia musik ketika bukunya Perahu Kertas diadaptasi menjadi film. Dua single OST film tersebut yakni Perahu Kertas dan Tahu Diri, dipopulerkan oleh Maudy Ayunda. Di album yang sama, Dee juga menulis Dua Manusia (Dendy), Langit Amat Indah (Rida Sita Dewi), A New World (Nadya Fatira).

Semasa karier musiknya, Dee juga sering berkolaborasi sebagai penulis lirik, di antaranya dengan Adjie Soetama, Kahitna, Yovie Widianto, dan Noah. Pada 2016, Dee kembali menulis single untuk Raisa berjudul Kali Kedua.

Menulis adalah hobi yang dilakoni Dee sejak kecil. Sejak umur 9 tahun, ia sudah berkhayal satu saat nanti pergi ke toko buku dan menemukan buku yang ditulisnya sendiri. Ia lalu membeli buku tulis dan mengisinya penuh, membayangkan bahwa itulah buku pertamanya. Judul cerita tersebut Rumahku Indah Sekali, kisah tentang seorang gadis cilik bernama Fluegel yang mendamba kuda poni.

Beranjak SMP, Dee mulai mencoba menulis cerpen remaja, mengirimkan ke majalah dan tidak berhasil, begitu juga ketika beberapa kali mengikuti lomba. Dee sempat frustrasi mencoba jalur media karena apa yang ia tulis selalu kepanjangan atau kependekan dari kriteria yang diminta. Akhirnya, hobi menulis ia jalani diam-diam. Hanya menunjukkannya ke orang-orang terdekat.

Dari honor menyanyi, ia membeli laptop pertamanya. Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Rico de Coro, adalah beberapa contoh karya yang ia tulis semasa di bangku kuliah dan baru diterbitkan lebih dari sepuluh tahun kemudian. Tahun 1993, Dee tergerak ikut lomba menulis artikel yang diadakan majalah Gadis. Karena tidak percaya diri, ia memakai nama adiknya. Artikel tersebut berhasil menjadi pemenang lomba. Beberapa tahun kemudian, kakak Dee, Key Mangunsong, yang berkawan dengan Hilman Hariwijaya (Lupus), menunjukkan cerpen Rico de Coro. Hilman lalu menembuskannya ke majalah remaja Mode. Rico de Coro mendapat sambutan hangat dari pembaca saat itu.

Akan tetapi, baru pada tahun 2000 Dee menulis sebuah manuskrip yang ia rasa layak menjadi buku pertamanya, yakni Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Karena tidak yakin naskahnya bisa menembus penerbit, plus ada tenggat waktu yang ingin ia penuhi, Dee lalu menerbitkan bukunya sendiri di bawah label Truedee Books. Buku tersebut tidak pernah ia bayangkan akan terjual laris. Ia cuma ingat cita-cita masa kecilnya untuk memiliki buku sendiri dan bertekad menunaikannya pada ulang tahunnya yang ke-25. Pada bulan Januari 2001, Supernova KPBJ terbit, dan di luar dugaan memecahkan rekor buku terlaris dalam waktu singkat. Tujuh ribu buku habis dalam waktu 14 hari.

Setelah terbitnya Supernova KPBJ, Dee semakin dikenal sebagai penulis. Aktivitasnya sebagai penyanyi terus berkurang, hingga pada tahun 2003 akhirnya Dee keluar dari Rida Sita Dewi. Episode kedua Supernova: Akar menyusul pada tahun 2002, lalu Supernova: Petir (2004). Setelah itu Dee menerbitkan antologi pertamanya, Filosofi Kopi, yang merupakan kumpulan karyanya dari tahun 1995 – 2005. Filosofi Kopi berhasil menjadi Karya Sastra Terbaik 2006 versi majalah Tempo dan menjadi 5 Besar Khatulistiwa Literary Award.

Sesuai cita-citanya untuk menjadi penulis multigenre yang tidak terkurung dalam satu jenis tulisan saja, Dee lalu menulis fiksi populer berjudul Perahu Kertas yang segmennya lebih mengarah ke remaja dewasa. Cerita yang aslinya dibuat pada tahun 1996 itu ia tulis ulang dan diterbitkan perdana sebagai novel digital pertama di Indonesia pada tahun 2008, bekerja sama dengan provider selular XL dan pengada konten Hypermind. Versi cetak Perahu Kertas baru terbit setahun kemudian, yang juga menjadi kerja sama pertamanya dengan Bentang Pustaka. Hingga kini, Perahu Kertas menjadi salah satu karya Dee yang paling laris.

Kerinduan Dee bermusik terpenuhi ketika buku berikutnya, Rectoverso, hadir pada tahun 2009. Sebelas cerpen yang bertandem dengan sebelas lagu menjadi karya hibrida sastra-musik pertama di Indonesia. Rectoverso adalah sebuah buku dengan pengalaman audio (musik), visual (ilustrasi), dan tentunya, sastra. Diproduseri Tommy Utomo dan Ruzie Firuzie, album Rectoverso menggandeng Magenta Orchestra dengan dua arranger utama yakni Andi Rianto dan Ricky Lionardi. Ilustrasi dalam buku Rectoverso digarap oleh Fahmi Ilmansyah, desainer kover buku Dee sejak tahun 2002.

Karya berikut Dee adalah antologi berjudul Madre yang merupakan kompilasi karyanya dari tahun 2007 sampai 2011. Berisikan tiga belas cerpen dan puisi, Madre mendapat Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Indonesia.

Setelah delapan tahun ditunggu pembaca, episode Supernova kembali terbit pada tahun 2012 dengan judul Supernova: Partikel. Hari rilisnya yang menghebohkan (salah satunya karena menghadirkan alien di toko-toko buku) menjadikan #Partikel sebagai trending topic dunia. Partikel mendapat ulasan positif dari kritikus sastra. Bahkan Goenawan Mohamad membuat satu Catatan Pinggir dengan judul Zarah, yang merupakan tokoh utama dalam Partikel.

Selain menerbitkan sendiri, Dee pernah bekerja sama dengan beberapa penerbit antara lain Bark, Akoer, Gagas Media,Goodfaith Production, hingga akhirnya kini semua bukunya berada di bawah bendera Bentang Pustaka. Episode kelima Supernova: Gelombang terbit pada bulan Oktober 2014. Pada Anugerah Pembaca Indonesia 2015, Dee dan Gelombang berhasil meraih predikat Penulis Fiksi Favorit Pembaca dan Buku Fiksi Favorit Pembaca.

Serial Supernova akhirnya ditutup dengan episode keenam, Inteligensi Embun Pagi (IEP), yang terbit pada bulan Februari 2016. Melalui program pre-order, IEP terjual 10.000 eksemplar bahkan sebelum tanggal rilisnya di toko buku.

Sejak menulis Perahu Kertas, Dee selalu membayangkan cerita tersebut diadaptasi ke dalam format visual, entah itu serial televisi atau film. Impiannya terwujud ketika Perahu Kertas dilamar hak adaptasinya. Tiga tahun dari penawaran itu, Perahu Kertas mulai digarap. Bentang Pictures menggandeng Starvision untuk ikut memproduksi. Dee menulis sendiri skenarionya. Belakangan, film Perahu Kertas diputuskan untuk memakai Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya, dan akhirnya rumah produksi Hanung, Dapur Film, ikut turun memproduseri.

Dengan berbagai pertimbangan, Perahu Kertas akhirnya dipecah menjadi dua, yakni Perahu Kertas dan Perahu Kertas 2 yang diluncurkan empat bulan setelah film pertamanya rilis. Berbintangkan Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, Elyzia Mulachela, Kimberly Ryder, Sharena Gunawan, Dion Wiyoko, dan Tio Pakusadewo, Perahu Kertas berhasil menjadi box office pada tahun 2012. Lagu Perahu Kertas yang diciptakan Dee berhasil menjadi soundtrack favorit di ajang Piala Maya 2012 dan mendapatkan nominasi di kategori yang sama di Indonesian Movie Awards 2013. Penata musik Perahu Kertas, Andhika Triyadi, menjadi pemenang kategori Penata Musik Terpuji di Festival Film Bandung 2013.

Rectoverso menjadi film kedua yang diadaptasi dari buku Dee. Di bawah naungan Keana Production, lima sutradara perempuan membuat film omnibus dari lima cerpen pilihan dari antologi Rectoverso, yaitu: Malaikat Juga Tahu (Marcella Zalianty, naskah: Ve Handojo), Firasat (Rachel Maryam, naskah: Indra Herlambang), Curhat Buat Sahabat (Olga Lydia, naskah: Ilya Sigma), Cecak di Dinding (Cathy Sharon, naskah: Ve Handojo), dan Hanya Isyarat (Happy Salma, naskah: Key Mangunsong & Raditya).

Rectoverso mendapat penghargaan Special Jury Award di Asean International Film Festival tahun 2013. Editor Rectoverso, Cesa. D. Lukmansyah, mendapat Piala Citra sebagai Penyunting Film Terbaik. Di ajang Indonesian Movie Award, Rectoverso menuai Pemeran Pria Terbaik (Lukman Sardi), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Dewi Irawan), dan Pasangan Terbaik (Lukman Sardi & Dewi Irawan). Rectoverso juga diputar di Cannes Film Festival 2013 dan Frankfurt Book Fair tahun 2014.

Pada tahun 2013, menyusullah Madre, film ketiga yang diadaptasi dari buku Dee. Disutradarai dan ditulis oleh Benni Setiawan serta diproduseri Mizan Production, Madre dibintangi oleh Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet. Toko roti tua “Madre” kembali dihidupkan di sebuah setting di Jalan Braga, Bandung.

Dirilis pada Desember 2014, Soraya Intercine memproduksi Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, yang naskahnya ditulis oleh Donny Dhirgantoro dan disutradarai oleh Rizal Mantovani. Film yang mengambil lokasi shooting di Jakarta, Bali, dan Washington DC ini dibintangi antara lain oleh Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Arifin Putra, Hamish Daud, dan Fedi Nuril.

Pada ajang FFI 2015, film Supernova KPBJ masuk ke dalam 4 nominasi dan berhasil memenangkan kategori Efek Visual Terbaik.

Rilis pada bulan April 2014, Filosofi Kopi menyusul jajaran film layar lebar lainnya yang diadaptasi dari karya Dee Lestari. Angga Dwimas Sasongko menjadi sutradara sekaligus salah satu produser Filosofi Kopi di bawah bendera Visinema. Dengan menggandeng Jenny Jusuf sebagai penulis skenario, film ini dibintangi antara lain oleh Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer. Di ajang FFI 2015, Filosofi Kopi masuk ke dalam 5 nominasi dan berhasil memenangkan 2 kategori, yakni Skenario Adaptasi Terbaik dan Penyunting Gambar Terbaik.

Berikut adalah kata kata mutiara Dee Lestari.

  • “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?” -Dewi Lestari
  • “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.(Spasi)” -Dewi Lestari
  • “Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” -Dewi Lestari
  • “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. Mencari Herman” -Dewi Lestari
  • “Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya. Filosofi Kopi” -Dewi Lestari
  • “Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Namun, kamu mendamba rasa sendiri itu.” -Dewi Lestari
  • “Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.” -Dewi Lestari
  • “Buat apa ia pelihara luka hati yang cuma bikin matanya berair?” -Dewi Lestari
  • “Jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.” -Dewi Lestari
  • “Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan, atau menghanguskan.” -Dewi Lestari
  • “Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikuti di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan… karena cinta adalah mengalami” -Dewi Lestari
  • “Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inci. Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda.” -Dewi Lestari
  • “Langit begitu hitam sampai batasnya dengan Bumi hilang. Akibatnya, bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Indah, kan?” -Dewi Lestari
  • “Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca-suka atau tidak pada hasilnya.” -Dewi Lestari
  • “Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat.” -Dewi Lestari
  • “Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu. Tiada yang menjawabku. Selain hatiku dan ombak berderu.” -Dewi Lestari
  • “Jingga di bahumu. Malam di depanmu. Dan bulan siaga sinari langkahmu. Teruslah berjalan. Teruslah melangkah. Kutahu kau tahu. Aku ada.” -Dewi Lestari
  • “Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.” -Dewi Lestari
  • “Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup.” -Dewi Lestari
  • “Kadang-kadang, pilihan terbaik adalah menerima.” -Dewi Lestari
  • “Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.” -Dewi Lestari
  • “Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya.” -Dewi Lestari
  • “Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati.” -Dewi Lestari
  • “Ajarkan aku menjadi penipu, apabila ternyata kau merasakan sakit di dalam tawamu.” -Dewi Lestari
  • “Anggap aja kamu ikan lele. Bisa berkembang biak di septic tank. Dia hidup bahagia di tempat sampahnya.” -Dewi Lestari
  • “Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu.” -Dewi Lestari
  • “Tapi, hidup ini cair. Semesta bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar.” -Dewi Lestari
  • “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.” -Dewi Lestari
  • “Berat hati kuakui, kesusahan, kegembiraan, ketika keduanya lewat bersamaan tanpa permisi, maka sensasinya sama.” -Dewi Lestari
  • “Setelah kita mencoba hidup 24 jam x 7 hari dengan seseorang dan tidak merasa bosan, maka orang itu bisa kita nikahi.” -Dewi Lestari
  • “Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku, sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku.” -Dewi Lestari
  • “Cinta hanya retorika kalau tidak ada tindakan nyata.” -Dewi Lestari
  • “Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.” -Dewi Lestari
  • “Tak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tak bisa ditangiskan.” -Dewi Lestari
  • “Tanpa kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu.” -Dewi Lestari
  • “Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.” -Dewi Lestari
  • “Separuh jiwa yang dia pikir hilang ternyata tidak pernah ke mana-mana, hanya berganti sisi, permainan gelap terangnya matahari dan bulan.” -Dewi Lestari
  • “Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikuti di setiap langkah kaki, merekatkan jemari dan berjalanlah kalian bergandengan, karena cinta adalah mengalami.” -Dewi Lestari
  • “Petir terjadi saat bumi dan langit ingin menyamakan persepsi.” -Dewi Lestari
  • “Rasa hangat ketika kedua tubuh bertemu, rasa lengkap ketika dua jiwa mendekat, rasa rindu yang tuntas ketika kedua pasang mata menatap.” -Dewi Lestari
  • “Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.” -Dewi Lestari 
  • “Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tak sanggup saya miliki.” -Dewi Lestari
  • “Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya.” -Dewi Lestari
  • “Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, yang memiliki sisi pahit yang tidak akan mungkin bisa kamu sembunyikan.” -Dewi Lestari
  • “Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.” -Dewi Lestari
  • “Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.” -Dewi Lestari
  • “Bintang yang sama tidak akan pernah jatuh untuk kedua kalinya.” -Dewi Lestari
  • “Betapa ironisnya realitas saat harus bersanding dengan dunia dongeng.” -Dewi Lestari
  • “Alam hati saya tidak mungkin dimengerti siapa-siapa.” -Dewi Lestari
  • “Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti?” -Dewi Lestari
  • “Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.” -Dewi Lestari
  • Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup.” -Dewi Lestari
  • “Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.” -Dewi Lestari
  • “Dia mencintai tidak cuma dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, tidak cuma rayuan gombal, tapi fakta. Dia cinta kamu tanpa pilihan. Seumur hidupnya.” -Dewi Lestari
  • “Langit begitu hitam sampai batasnya dengan Bumi hilang. Akibatnya, bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang.” -Dewi Lestari
  • “Entah apa yang membuat hubungan mereka lebih mirip musim mangga. Membeludak dalam satu waktu, lalu hilang kembali berbulan-bulan. Seperti ada tombol yang bisa dengan cepat mengubah mereka dari sepasang kekasih menjadi sahabat biasa.” -Dewi Lestari
  • “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman bukan penjelasan. Perjalanan bukan tujuan. Pertanyaan yang sungguh tidak berjodoh dgn segala jawaban.” -Dewi Lestari
  • “Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.” -Dewi Lestari
Click Here to Leave a Comment Below 1 comments
LikelyYou.com - September 5, 2019

Tenangkan dia dengan ungkapan yang menyejukkan hatinya. Buat dia paham bahwa jarak bukanlah penghalang bagi perasaan cinta yang sudah mengakar. Kata-kata romantis buat pacar yang jauh seperti di atas barangkali bisa menginspirasi.

Reply

Leave a Reply: