R.A. Kartini


Radeng Ajeng Kartini (1879-1904) adalah seorang pejuang pendidikan untuk kaum terpinggirkan, khususnya kaum pribumi, pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.
Meski seorang bangsawan, R.A. Kartini memiliki tekad kuat untuk mensejahterakan kaum pribumi. Dan ini hanya bisa dilakukan dengan memberikan kesamaan akses pendidikan, baik bagi orang kecil, maupun wanita.
Dalam situasi diskriminatif tersebut, R.A. Kartini tetap menomorsatukan nuraninya. Setelah tidak boleh meneruskan sekolah kedokteran di batavia, dan tidak boleh pula melanjutkan sekolah di Belanda, ia berkeras menjadi seorang guru.
Melihat kegigihan Kartini, suaminya pun mengerti keinginan dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten rembang.
Berikut adalah kata-kata bijak R.A. Kartini yang sangat menginspirasi.

  • “Betapapun indah dan bagus serta penuh kemewangan kurungan itu, bagi si burung yang terkurung di dalamnya, dia tetaplah kurungan!”. [R.A. Kartini]
  • “Tetapi apakah kecerdasan pikiran itu sudah berarti segala-galanya? Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan…” [R.A. Kartini]
  • “Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal. Siang malam anak-anak ada di rumah, di sekolah sehari hanya beberapa jam saja.” [R.A. Kartini]
  • “Tiada terang yang tiada didahului oleh gelap.. mengendalikan diri adalah kemenangan jiwa atas tubuh; kesunyian adalah jalan ke arah pemikiran.” [R.A. Kartini]
  • “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.” [R.A. Kartini]
  • “Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya.” [R.A. Kartini]
  • “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu – satunya hal yang benar – benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” [R.A. Kartini]
  • “Saat membicarakan orang lain Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yang baik.” [R.A. Kartini]
  • “Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.” [R.A. Kartini]
  • “Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang.” [R.A. Kartini]
  • “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.” [R.A. Kartini]
  • “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.” [R.A. Kartini]
  • “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” [R.A. Kartini]
  • “Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.” [R.A. Kartini]
  • “Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.” [R.A. Kartini]
  • “Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.” [R.A. Kartini]
  • “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” [R.A. Kartini]
  • “Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbullah angan – angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah.” [R.A. Kartini]
  • “Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada orang lain?” [R.A. Kartini]
  • “Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati pada manusia. Kami berpegangan teguh-teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.” [R.A. Kartini]
  • “Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.” [R.A. Kartini]
  • “Tak peduli seberapa keras kamu mencoba, kamu tak akan pernah bisa menyangkal apa yang kamu rasa. Jika kamu memang berharga di mata seseorang, tak ada alasan baginya untuk mencari seorang yang lebih baik darimu.” [R.A. Kartini]