Aldous Huxley

Aldous Huxley, siapa tidak mengenal penulis dengan sederet karya yang dihiasi banyak sekali pandangan kontroversial dan futuristik sehingga menyita perhatian besr dari berbagai kalangan termasuk sastra, non-sastra, akademik bahkan sekedar masyarakat penikmat seni. Lahir dari pasangan Leonard Huxley, pakar zoologis dan botanis terkenal, dan Julia Arnold, seorang penyair, Huxley kecil tumbuh di lingkungan yang kaya akan intelektualitas dan kreativitas.

Hingga dewasa, pemikiran petualang religi yang brilian sekaligus mengundang banyak pro-kontra ini membuat sosok Aldous Huxley dianggap sebagian besar kalangan sebagai anggota keluarga Huxley yang paling berhasil. Memulai pendidikannya di laboratorium sang ayah dan sekolah dasar Hillside, perjalanan Huxley kecil ternyata tidak semudah yang banyak dikira orang.

Semasa menjalani pendidikan di sekolah tinggi Eton College, Aldous Huxley menderita kelainan penglihatan yang membuatnya mengalami kebutaan pada 1911 serta membuatnya terlepas dari wajib militer untuk Perang Dunia I. Beberapa tahun kemudian, penyakit tersebut berangsur-angsur pulih, meski tidak kembali normal, dan Huxley mulai belajar sastra serya bekerja sebagai editor untuk majalah Oxford Poetry.

Sebelum sukses sebagai penulis, Huxley sempat mengajar di Eton College, bekas sekolahnya dulu. Mungkin tersebab pandangan hidupnya yang cenderung humanis, satiris dan pasifis, Huxley sering dianggap kurang disiplin dan tidak terlalu cakap dalam mengajar. Tapi, tentunya, tidak menurut sebagian besar mahasiswanya. Beberapa murid yang bakal menjadi setenar gurunya di kemudian hari, seperti Eric Blair dan Stephen Runciman, justru mengaku sangat terkesan dengan gaya mengajar dan kata-kata sastrawan penerima banyak penghargaan atas berbagai karya dan kontribusinya ini.

Aldous Huxley sendiri sudah mulai menulis berbagai karya dan esai sejak berusia 17 tahun dan mulai serius menerbitkan karya pada usia 20 tahun. Karya pertamanya, sebuah satir sosial berjudul Crome Yellow, terbit pada 1921. Babak berikutnya kehidupan sastrawan kelahiran 1894 ini diisi dengan bekerja pada sebuah laboratorium kimia di Billingham, tempat dan pengalaman kerja yang sekaligus menjadi sumber inspirasi salah satu karya kanon Huxley yang paling terkenal, Brave New World (terbit 1932).

Karya tersebut dilandasi keprihatinan Huxley usai menyaksikan hasil dan dampak Perang Dunia I yang melanda Eropa. Seiring dengan perpindahan wacana kreatif dengan banyak menulis karya non-fiksi bertema perdamaian dan pasifisme seperti End and Means, An Encyclopedia of Pacifism, dan Pacifism and Philosophy, Huxley dan istri pertamanya, Maria, pindah ke Hollywood, Amerika Serikat.

Migrasi tersebut mempertemukan jenius kelahiran kota Godalming, Inggris ini dengan Vedantisme dan ajaran Ahimsa yang banyak dipelajari Huxley dari guru J. Krishnamurti. Perkenalannya dengan penulis Anita Loos juga membawa Huxley ke dunia baru, sinematografi. Dengan keahlian menulis naskah, baik drama dan film, Huxley memperoleh dukungan finansial yang layak selain dari pekerjaannya sebagai penulis novel.

Pasca Perang Dunia II, Huxley mencoba melamar untuk mendapat hak atas kewarganegaraan Amerika Serikat, namun gagal. Seiring dengan perkembangan teknologi medis pada era 1950an, gaya tulis dan perspektif Huxley kembali berubah dipengaruhi perkembangan riset kedokteran dan farmakologi baru saat itu. Banyak ‘karya hari tua’ Huxley mengandung tema mistis dan pengalamannya membaca bahkan mencoba pengobatan baru.

Saat menginjak usia ke-69, penulis yang dikenal seolah mampu memperkirakan masa depan ini meninggal dunia di tempat tidurnya setelah memberikan pesan terakhir pada istri keduanya, Laura, bertuliskan “LSD, 100 mg, intramuscular”. Jenazah sastrawan enius sekaligus kontroversial ini dikremasi dan abunya disemayamkan pada sebuah pemakaman di kota kelahirannya sendiri, Surrey, Inggris.

Berikut adalah kata-kata bijak Aldous Huxley, sastrawan dari Inggris.

  • Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda; melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami. [Aldous Huxley]
  • Kebahagiaan itu seperti batu arang, ia diperoleh sebagai produk sampingan dalam proses pembuatan sesuatu. [Aldous Huxley]
  • Ayahku menganggap berjalan-jalan di pegunungan sama nilainya dengan pergi ke gereja. [Aldous Huxley]
  • Untuk membuat uang, seseorang harus benar-benar tertarik dengan uang. [Aldous Huxley]
  • Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak. [Aldous Huxley]
  • Memori setiap manusia adalah daftar bacaan pribadinya. [Aldous Huxley]
Click Here to Leave a Comment Below 0 comments

Leave a Reply: