Cerita Tentang Teh dan Kopi

Seorang pemuda yang sudah beberapa tahun merantau ke Kota. Pada suatu hari, tiba-tiba ia terngiang dengan ucapan sang Ibunda saat masih di kampung dulu. 

“Jangan bersikap buruk, sebab kelak kamu akan sangat menyesalinya, Nak. Orang akan selalu mengingat perbuatan kita yang salah”.

Pemuda itu bahkan tidak mengerti mengapa ibunya selalu mengucapkan kata-kata yang sama.

Bukan hanya satu atau dua kali saja, namun ibunya kerap mengucapkan kata-kata ini setiap kali ia memberi nasehat atas sikapnya yang kadang kurang baik pada pandangan si ibu.

Pemuda itu mengacuhkannya, sebab apalah arti sebuah nasehat bagi pemuda yang sedang dalam masa-masa remaja, hal ini bahkan kerap dianggap sebagai angin lalu saja.

Berulangkali kali si ibu memberi nasehat, berulangkali pula pemuda itu menganggapnya sebagai angin lalu.

Sikap cerobohnya kerap menjadi alasan mengapa pemuda itu sering dinasehati si ibu, hingga si ibu mengibaratkan perbuatannya seperti dua cangkir minuman yang berbeda, yakni teh dan kopi.

Meski begitu, pemuda itu masih saja sering bertindak ceroboh. Sekali waktu, di malam hari ia lupa mengurung induk dan anak ayamnya ke dalam kandang, hingga pada keesokan harinya ketujuh anak ayam itu lenyap dimangsa musang dan hanya tinggal induknya saja, padahal ibunya telah menyuruhnya mengerjakan hal tersebut berulangkali sejak sore.

Lalu di lain waktu, ia juga tidak menutup saluran air yang masuk ke kolam kecil milik ayahnya, hingga air mengalir terus sepanjang malam dan menghanyutkan semua ikan tersebut ke kolam lainnya milik orang lain di tempat yang lebih rendah dari kolam ayahnya.

Kala itu, bukan hanya kolam ayahnya saja yang ikannya terbawa air, namun dua kolam lainnya milik pamannya juga kehilangan banyak ikan.

Kejadian ini memberinya satu pelajaran penting, yang tak lain adalah nasehat ibunya. 

“Ketika kamu berbuat baik, maka hal tersebut serupa secangkir teh hangat yang sedap, saat diaduk aromanya menenangkan dan warnanya tetap sama bahkan setelah lama. Namun ketika kamu berbuat salah, maka hal tersebut seperti secangkir kopi hitam, saat diaduk aromanya begitu menggoda dan warnanya akan langsung keruh dan hitam, meskipun telah sempat mengendap lama. Demikianlah orang akan selalu mengingat perbuatan salahmu, Nak, meskipun telah lama berlalu.”

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments

Leave a Reply: